Saturday, 9 June 2018

Tajwid - Hukum Nun Mati dan Tanwin

Posted by ilmu dasar kehidupan On 07:45 | No comments
Hukum Nun Mati dan Tanwin


A. Pengertian Nun Mati dan Tanwin
Nun mati disebut juga nun sakinah. Sedang yang dimaksud dengan nun mati adalah nun yang tidak berbaris, ia menggunakan harakat sukun sehingga nun itu tidak dapat dibunyikan kecuali diawali huruf lain. Contoh : عِنْدَ يَنْمُوْا
Sedangkan yang dimaksud dengan tanwin adalah nun mati yang bertempat di akhir isim (kata benda) yang terlihat apabila dibaca washal (sambung dengan kata lain) dan hilang ketika ditulis (diwakafkan).
Jadi pada dasarnya tanwin itu bermula dari nun mati yang kelihatan dalam bahasa lisan dan hilang dalam bahasa tulisan. Contoh :
سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ Dibaca سَمِيْعُنْ عَلِيْمُنْ
سَلَامًا تَامّاً Dibaca سَلَامَنْ تَامَّنْ
Dari pengertian di atas, tampak bahwa antara nun mati dan tanwin mempunyai persamaa dan perbedaan. Persamaannya yaitu terletak pada huruf nun-nya yang mati. Sedangkan perbedaaanya yaitu: nun mati tampak jika diucapkan maupun ditulis, dan tanwin hanya tampak nun-nya ketika diucapkan bukan ditulis.

B. Hukum Nun Mati dan Tanwin
Nun mati atau tanwin yang bertemu salah satu huruf hijaiyah, mempunyai dampak hukum tersendiri dalam bacaaanya. Ada yang dibaca terang (izhar), memasukkan (idgham), menukar atau berubah (iqlab ) dan menyembunyikan (ikhfa’). Dari dampak tersebut, maka bila ada nun mati atau tanwin bertemu huruf hijaiyah mempunyai 4 hukum, yaitu:
  1. Izhar (اِظْهَارْ )
  2. Idgham ( اِدْغَامْ )
  3. Iqlab ( اِقْلَابْ )
  4. Ikhfa’ ( اِخْفَاءْ )
Kelima cara bacaan itu akan diterangkan satu persatu secara rinci sebagai berikut:
1. Bacaan Izhar
a. Pengertian Izhar
Muhammad Mahmud menyatakan bahwa dalam arti bahasa, izhar berarti : اَلْبَيَانْ yakni terang, jelas, tampak. Sedangkan menurut istilah adalah:
الإِظْهَارُ هُوَ إِخْرَاجُ كُلِّ حَرْفٍ مِنْ مَخْرَجِهِ مِنْ غَيْرِ غُنَّةٍ
“Mengeluarkan setiap huruf dari tempat keluarnya tanpa disertai berdengung”
Pengertian itu menjelaskan agar cara membaca nun mati atau tanwin jelas dan terang, tanpa disertai dengung jika bertemu dengan huruf izhar.
b. Huruf-huruf izhar
Huruf izhar ada 6 macam, keenam huruf itu disebut huruf halqi ( الحَلْقِي ), karena makhraj huruf izhar pada halqi (tenggorokan). Adapun huruf-huruf halqi adalah : ء هـ ح خ ع غ . Dengan keenam huruf itu pula, maka bacaan ini bisa disebut dengan izhar halqi. ( اِظْهَارْ حَلْقِي )
Contoh :
No Tertulis Dibaca Sebab
1 يَنْئَوْنَ يَنْئَوْنَ ن bertemu ء
2 كُلٌّ اٰمَنَ كُلّنْ اٰمَنَ ـــٌـ bertemu ء
3 يَنْهَوْنَ يَنْهَوْنَ ن bertemu ه
4 قَوْمٍ هَادٍ قَوْمِنْ هَادِنْ ـــٍــ bertemu ه
5 مِنْ عِلْمٍ مِنْ عِلْمٍ ن bertemu ع
6 جَنَّةٍ عَالِيَةٍ جَنَّتِنْ عَالِيَتِنْ ــــٍــ bertemu ع
7 مِنْ غِلٍّ مِنْ غِلٍّ ن bertemu غ
8 عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ عَزِيْزُنْ غَفُوْرُنْ ـــٌـ bertemu غ
9 وَانْحَرْ وَانْحَر ن bertemu ح
10 حَمِيْمٌ حَمِيْمًا حَمِيْمُنْ حَمِيْمَنْ ـــٌـ bertemu ح
11 مِنْ خَيْرٍ مِنْ خَيْرِنْ ن bertemu خ
12 نِدَآءً خَفِيًّا نِدَآءَنْ خَفِيَّنْ ـــًــ bertemu خ
2. Bacaan Idgham
a. Pengertian Idgham
Menurut Muhammad Mahmud, idgham dalam arti bahasa berarti: إِدْخَالُ الشَّيْئِ فِى الشَّيْئِ  (Memasukkan sesuatu pada sesuatu). Arti ini jika dikembangkan berarti memasukkan huruf nun mati pada idgham.
Sedangkan dalam arti istilah idgham berarti:
الاِدْغَامُ هُوَ اِلْتِقَاءُ حَرْفٍ سَاكِنٍ بِمُتَحَرِّكٍ بِحَيْثُ يَصِيْرَانِ حَرْفًا مُشَدَّدًا
“Pertemuan huruf yang mati dengan huruf yang hidup sehingga kedua huruf itu menjadi satu huruf yang ditasydid”.
Dari pengertian diatas, tampak bahwa cara membaca bacaan idgham adalah memasukkan nun mati atau tanwin pada huruf-huruf idgham, dan seakan-akan kedua huruf itu menjadi satu. Seperti huruf-huruf yang ditasydid walaupun asal kedua huruf ini tidak bertasydid.
b. Huruf-huruf Idgham
Huruf idgham ada 6 macam, yang terkumpul pada rumus : يَرْمِلُوْنَ
sehingga jika ada nun mati dan tanwin bertemu salah satu keenam huruf tersebut, maka nun mati dan tanwin tersebut harus dimasukkan padanya. Keenam huruf itu ada yang dibaca mendengung ada yang tidak, karena itu idgham terbagi menjadi dua macam.
c. Pembagian Idgham
  1. Idgham Bighunnah (ادغام بغنة )
  2. Idgham Bilaghunnah ( ادغام بلاغنة )
  • Idgham bighunnah sebagaimana dalam pengertian di atas, adalah membunyikan nun mati atau tanwin dengan memasukkan pada huruf idgham bighunnah, yaitu : يَنْمُوْ (ya’, nun, mim, wawu) disertai mendengung. Cara membunyikannya harus memasukkan nun mati atau tanwin pada keempat huruf tersebut:
    Contoh:
No Tertulis Dibaca Sebab
1 مَنْ يَقُوْلُ مَيْ يَقُوْلُ ن bertemu ى
2 بَرْقٌ يَجْعَلُوْنَ بَرْقُىْ يَجْعَلُوْنَ ــٌـ bertemu ى
3 عَنْ نَفْسٍ عَنْ نَفْسنْ ن bertemu ن
4 حِطَّةٌ نَغْفِرْلَكُمْ حِطَّتُنْ نَغْفِرْلَكُمْ ــٌـ bertemu ن
5 مِنْ مَالــٍ مِمْ مَالــنْ ن bertemu م
6 مَاءٍ مُصَفًّى مَائِمْ مُصَفّنْ ـــٍــ bertemu م
7 مِنْ وَالٍــ مِوْ وَالٍــ ن bertemu و
8 يَوْمَئِذٍ وَاهِيَةْ يَوْمَئِذوْ وَاهِيَةْ ـــٍــ bertemu و
Dan hukum bacaan idgham bighunnah mempunyai syarat yaitu: harus terjadi dalam dua kalimat. Maksudnya antara nun mati dan tanwin harus terpisah dengan huruf idgham bighunnah.
Jika syarat tersebut tidak dipenuhi, yaitu nun mati atau tanwin bertemu salah satu huruf idgham bighunnah dalam satu kalimat, maka cara membacanya terang (izhar). Ulama tajwid menyebutkan dengan istilah izhar kilmi ( اظهار كلمى ), karena kejadian izhar berdasarkan satu kalimat. Atau disebut izhar wajib ( اظهار واجب ) karena sangat wajib meng-izharkan (menerangkan) bacaannya.
Contoh:
No Tertulis Dibaca Sebab
1 صِنْوَانٌ صِنْوَانٌ ن bertemu و
2 قِنْوَانٌ قِنْوَانٌ ن bertemu و
3 بُنْيَانٌ بُنْيَانٌ ن bertemu ى
4 دُنْيَا دُنْيَا ن bertemu ى
  • Idgham Bilaghunnah cara membaca nun mati atau tanwin dengan memasukkanya pada huruf lam dan ra’ tanpa mendengung.
    Karena itu, huruf idgham bilaghunnah terdapat dua macam, yaitu لر ( lam dan ra’ ). Jika ada nun mati atau tanwin bertemu salah satu dari kedua huruf itu, maka wajib dimasukkan padanya tanpa mendengung.
    Contoh :
No Tertulis Dibaca Sebab
1 مِنْ لَدُنْهُ مِلْ لَدُنْهُ ن bertemu ل
2 رَحْمَةً لِّلْعَالَمِيْنَ رَحْمَتَلْ لِّلْعَالَمِيْنَ ـــًــ bertemu ل
3 مِنْ رَبِّهِمْ مِرْ رَبِّهِمْ ن bertemu ر
4 رَؤُفٌ رَحِيْمٌ رَؤُفُرْ رَحِيْمٌ ــٌـ bertemu د
3. Bacaan Iqlab
a. Pengertian Iqlab
Menurut Muhammad Mahmud, iqlab dalam arti bahasa adalah : تَحْوِيْلُ الشَّيْئِ عَنْ وَجْهِهِ : “mengubah bentuk sesuatu dari asalnya“. Dalam arti mengubah huruf nun mati atau tanwin pada huruf iqlab.
Sedangkan menurut arti istilah adalah:
اَلْاِقْلَابُ هُوَجَعْلُ حَرْفٍ مَكَانَ حَرْفٍ اَخَرَمَعَ مُرَاعَاةِ اْلغُنَّةِ
“Menjadikan huruf satu pada ketentuan huruf lain disertai mendengung
Dari pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa nun mati atau tanwin ketika bertemu dengan huruf iqlab, maka nun mati atau tanwin tersebut harus dibaca sebagaimana bacaan iqlab disertai mendengung.
b. Huruf iqlab
Huruf iqlab hanya satu, yaitu ba’ ( ب ). Maka ketika ada nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf ba’, maka nun mati atau tanwin itu harus dibaca mim ( م ) karena bacaan iqlab.
Contoh :
No Tertulis Dibaca Sebab
1 اَنْبِئْهُمْ اَمْبِئْهُمْ ن bertemu ب
2 عَلِيْمٌ بِذَاتٍ عَلِيْمُمْ بِذَاتٍ ــٌـ bertemu ب
4. Bacaan Ikhfa
a. Pengertian Ikhfa’
Menurut Muhammad Mahmud, ikhfa dalam arti bahasa adalah: السَّتْرُ “menutupi atau menyembunyikan“.
Sedangkan dalam arti istilah adalah:
اَلْاِخْفَاءُهُوَعِبَارَةٌ عَنِ النُّطْقِ بِحَرْفٍ سَاكِنٍ عَارٍاَىْ خَالٍــ عَنْ التَّشْدِيْدِ عَلَى صِفَةٍ بَيْنَ الاِظْهَارِ وَالْاِدْغَامِ مَعَ بَقَاءِ الغُنَّةِ فِى اْلحَرْفِ
“Ikhfa’ adalah mengungkapkan huruf yang mati dan tersembunyi atau sunyi dari tasydid pada bacaan antara terang dan memasukkan dengan mendengungkan pada huruf pertama”.
Pengertian tersebut tampak jelas bahwa bacaan yang samar-samar antara izhar (terang) dengan idgham (memasukkan pada yang lain) disertai mendengung, atau ketika mengucapkan nun mati atau tanwin seakan-akan bertemu huruf “ng” seperti dalam bahasa Indonesia.
b. Huruf-huruf Ikhfa’
Huruf ikhfa’ sebanyak 15 macam, yang terkumpul pada awal kata berikut ini:
صِفْ ذَاثَنَاكَمْ جَادَ شَخْصٌ قَدْسَمَا # دُمْ طَيِّبًا زِدْ فِى تُقًى ضَعْ ظَالِمًا
Dari kelima belas huruf ikhfa’ itu terdapat 3 klasifikasi, yaitu:
  1.  Ikhfa’ A’la ( اِخْفَاءُ اَعْلٰى ), yaitu bacaan ikhfa’ yang lebih lama dari ghunnahnya, adapun hurufnya ada tiga, yaitu: ت, د,ط    contoh: مِنْ دُوْنِ , مِنْ طَيِّبَاتِ
  2.  Ikhfa’ Adna ( اِخْفَاء اَدْنٰى ), yaitu bacaan ikhfa’ yang lebih pendek dari ghunnah, adapun hurufnya ada dua : ق , ك contoh:مَنْ كَانَ , مِنْ قَبْلِ
  3.  Ikhfa’ Ausath ( اِخْفَاءْ اَوْسَطْ ), yaitu antara bacaan ikhfa’ dengan ghunnah sama-sama sedang, adapun hurufnya yaitu selain dari bagian ikhfa A’la dan ikhfa’ Adna. Contohnya: اَنْفُسَكُمْ , اَنْزَلْنَاهُ
Contoh:
No Tertulis Dibaca Sebab
1 اُنْصُرْنَ اُنْصُرْنَ ن bertemu ص
2 رِجَالٌ صَدَقُوْا رِجَالُنْ صَدَقُوْا ــٌـ bertemu ص
3 مُنْذِرٌ مُنْذِرُنْ ن bertemu ذ
4 صَوَابًا ذَالِكَ صَوَابَنْ ذَالِكَ ـــًــ bertemu ذ
5 مَنْثُوْرًا مَنْثُوْرَنْ ن bertemu ث
6 شِهَابٌ ثَاقِبٌ شِهَابُنْ ثَاقِبُنْ ــٌـ bertemu ث
7 اِنْ كُنْتُمْ اِنْ كُنْتُمْ ن bertemu ك
8 مُسْرِفٌ كَذَّابٌ مُسْرِفُنْ كَذَّابُنْ ــٌـ bertemu ك
9 مَنْ جَٓاءَ مَنْ جَٓاءَ ن bertemu ج
10 عَيْنٌ جَارِيَةٌ عَيْنُنْ جَارِيَتُنْ ــٌـ bertemu ج
11 يُنْشِئُ يُنْشِئُ ن bertemu ش
12 لِنَفْسٍ شَيْئًا لِنَفْسنْ شَيْئَنْ ـــٍــ bertemu ش
13 مِنْ قَبْلُ مِنْ قَبْلُ ن bertemu ق
14 سَلَامٌ قَوْلًا سَلَامُنْ قَوْلنْ ــٌـ bertemu ق
15 مِنْ سُهُوْلِهَا مِنْ سُهُوْلِهَا ن bertemu س
16 بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ بِقَلْبِنْ سَلِيْمِنْ ـــٍــ bertemu س
17 اَنْدَادًا اَنْدَادًنْ ن bertemu د
18 قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ قِنْوَانُنْ دَانِيَتُنْ ــٌـ bertemu د
19 اِنْطَلِقُوْا اِنْطَلِقُوْا ن bertemu ط
20 بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ بَلْدَتُنْ طَيِّبَتُنْ ــٌـ bertemu ط
21 اَنْزَلْنَا اَنْزَلْنَا ن bertemu ز
22 نَفْسًا زَكِيَةً نَفْسًنْ زَكِيَتَنْ ـــًــ bertemu ز
23 لِيُنْفِقْ لِيُنْفِقْ ن bertemu ف
24 خَالِدًا فِيْهَا خَالِدَنْ فِيْهَا ـــًــ bertemu ف
25 مِنْ تَحْتِهَا مِنْ تَحْتِهَا ن bertemu ت
26 جَنَّاتٍ تَجْرِىْ جَنَّاتِنْ تَجْرِىْ ـــٍــ bertemu ت
27 مَنْضُوْدٍ مَنْضُوْدِنْ ن bertemu ض
28 كُلًّا ضَرَبْنَا كُلًّا ضَرَبْنَا ـــًــ bertemu ض
29 يَنْظُرُوْنَ يَنْظُرُوْنَ ن bertemu ظ
30 قُرًى ظَاهِرَةً قُرَنْ ظَاهِرَةً ـــًــ bertemu ظ


Sekian penjelasan tentang ilmu tajwid kususnya hukum nun mati dan tanwin, semoga bermanfaat.

copy from
http://tajwid.web.id/hukum-nun-mati-dan-tanwin/

Abu Bakar Ash Shiddiq khalifah Pertama

Posted by ilmu dasar kehidupan On 07:01 | No comments
Abu Bakar Ash Shiddiq

 
        Banyak diantara kita (orang muslim) yang belum mengetahui nama dari Abu Bakar RA. Nama lengkap Abu Bakar adalah 'Abdullah bin 'Utsman bin Amir bi Amru bin Ka'ab bin Sa'ad bin Tayyim bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib bin Quraisy.
       Abu Bakar ayah dari Aisyah yang merupakan istri Nabi Muhammad SAW. Nama sebelum masuk islam adalah Abdul Ka'bah yang artinya 'hamba Ka'bah'. Setelah masuk islam namanya diubah oleh Muhammad menjadi Abdullah yang artinya 'hamba Allah. Selain itu Nabi Muhammad SAW juga memberinya gelar Ash-Shiddiq yang artinya (yang berkata benar) setelah beliau membenarkan dan mempercayai peristiwa Isra Mi'raj yang diceritakan oleh Nabi Muhammad SAW kepada para pengikutnya. Banyak dari kalangan orang kafir yang menertawakan kejadian tersebut, bahkan orang-orang muslim juga bimbang dengan kenyataan yang ada, tetapi karena kejadian ini Abu Bakar dikenal dengan As Sidiq.
      Abu Bakar ash-Shiddiq merupakan keturunan Bani Taim, sub-suku bangsa Quraisy. Dan menururt beberapa catatan sejarawan Islam ia adalah seorang pedagang, hakim dengan kedudukan tinggi, seorang yang terpelajar.
      Saat Muhammad menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, ia pindah dan hidup bertetangga bersama Abu Bakar. Sejak saat itulah mereka saling berkenalan. Usia mereka berdua hampir sama dan keduanya ahli dalam berdagang.
      Dalam kitab Hayatussahabah, bab Dakwah Muhammad kepada perorangan, dituliskan bahwa Abu bakar memeluk Islam oleh ajakan nabi. Dan setelah itu ia meneruskan dakwah islaminya kepada Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa'ad bin Abi Waqas dan beberapa tokoh penting dalam Islam lainnya.
       Namun istri beliau Qutaylah binti Abdul Uzza dan anaknya Abd Rahman bin Abu Bakar tidak mau memeluk Islam sehingga Abu Bakar menceraikannya dan berpisah dengan anaknya. Tetapi istrinya yang lain, Ummu Ruman, menjadi Muslimah.
      Saat Nabi Muhammad hijrah ke Madinah (622 M), Abu Bakar adalah satu-satunya orang yang menemaninya. Setelah beberapa saat Hijra, Nabi Muhammad SAW menikah dengan anak Abu Bakar, sehingga ikatan kekeluargaannya makin erat.
 
       Selama masa sakit Rasulullah saat menjelang wafat, dikatakan bahwa Abu Bakar ditunjuk untuk menjadi imam salat menggantikannya, banyak yang menganggap ini sebagai indikasi bahwa Abu Bakar akan menggantikan posisinya. Bahkan setelah Nabi SAW telah meninggal dunia, Abu Bakar Ash-Shiddiq dianggap sebagai sahabat Nabi yang paling tabah menghadapi meninggalnya Nabi SAW ini. Setelah kematian Nabi, dilakukanlah musyawarah di kalangan para pemuka kaum Anshar dan Muhajirin di Madinah, yang akhirnya menghasilkan penunjukan Abu Bakar sebagai pemimpin baru umat Islam atau khalifah Islam pada tahun 632 M.

Namun hasil musyawarah tersebut menjadi perdebatan dan menjadi sumber perpecahan pertama dalam Islam. Saat itu umat Islam terpecah menjadi kaum Sunni dan Syi'ah. Kaum Syi'ah percaya bahwa seharusnya Ali bin Abi Thalib (menantu nabi Muhammad) yang menjadi pemimpin dan dipercayai ini adalah keputusan Rasulullah sendiri, sementara kaum sunni berpendapat bahwa Rasulullah menolak untuk menunjuk penggantinya. Kaum sunni berargumen bahwa Muhammad mengedepankan musyawarah untuk penunjukan pemimpin. Sementara muslim syi'ah berpendapat bahwa nabi dalam hal-hal terkecil seperti sebelum dan sesudah makan, minum, tidur, dan lain-lain, tidak pernah meninggal umatnya tanpa hidayah dan bimbingan apalagi masalah kepemimpinan umat terahir.

Banyak hadits yang menjadi rujukan dari kaum Sunni maupun Syi'ah tentang siapa khalifah sepeninggal rasulullah, serta jumlah pemimpin Islam yang dua belas. Terlepas dari kontroversi dan kebenaran pendapat masing-masing kaum tersebut, Ali sendiri secara formal menyatakan kesetiaannya (berbai'at) kepada Abu Bakar dan dua khalifah setelahnya (Umar bin Khattab dan Usman bin Affan). Kaum sunni menggambarkan pernyataan ini sebagai pernyataan yang antusias dan Ali menjadi pendukung setia Abu Bakar dan Umar. Sementara kaum syi'ah menggambarkan bahwa Ali melakukan baiat tersebut secara pro forma, mengingat ia berbaiat setelah sepeninggal Fatimah istrinya yang berbulan bulan lamanya dan setelah itu ia menunjukkan protes dengan menutup diri dari kehidupan publik.


Abu Bakar wafat pada tanggal 23 Agustus 634 di Madinah karena sakit yang dideritanya pada usia 61 tahun. Abu Bakar dimakamkan di rumah putrinya Aisyah di dekat Masjid Nabawi, di samping makam Nabi Muhammad SAW.
 
 
copy from
http://kota-islam.blogspot.com/2015/02/sejarah-dan-biografi-singkat-abu-bakar.html
 
referensi
http://id.wikipedia.org/wiki/Abu_Bakar_Ash-Shiddiq diakses tanggal 10 februari 2014
http://id.wikipedia.org/wiki/Khulafaur_Rasyidin diakses tanggal 10 februari 2014

Tuesday, 29 May 2018

Teroris di Malang

Posted by ilmu dasar kehidupan On 03:11 | No comments
Teroris di Malang




      Jajaran kepolisian menggeledah sebuah rumah di Jalan Kapi Sraba XI Blok 10 H/12 Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Senin (14/5/2018).
Penggeledahan terkait dengan kejadian rentetan teror bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya.
Kasatreskrim Polres Malang, AKP Adrian Wimbarda mengatakan, satu orang diamankan. Yakni pemilik rumah yang merupakan suami dari terduga teroris yang ditangkap di Surabaya.
     "Suami dari yang diamankan di Surabaya," kata Adrian usai penggeledahan.
Ia tidak menyebutkan identitas terduga yang diamankan. Informasi di lokasi, pemilik rumah bernama Muhammad Arifin, suami dari Ida yang sudah ditangkap di Surabaya.
Sementara itu, dalam penggeledahan yang berlangsung sejak pukul 13.00 WIB hingga 17.00 WIB, polisi mengamankan sejumlah buku dan peralatan. Belum diketahui jenis buku dan peralatan tersebut. 
      "Yang diamankan dari rumahnya hanya buku-buku dan peralatan semuanya, tapi belum kita temukan itu apa saja," tuturnya.

Samsul Hadi, salah seorang Linmas yang berjaga mengatakan, rumah berpagar hitam dan coklat yang digeledah polisi itu adalah milik pasangan suami istri Muhammad Arifin dan Ida.
Belakangan ini, Ida diketahui sering keluar rumah dan jarang pulang. Sementara Muhammad Arifin merupakan pegawai di Kantor Pos Kota Malang.
    "Dalam dua bulan ini jarang di rumah. Pulang pergi lagi. Katanya sering ke Surabaya karena orangtuanya di sana. Kalau Pak Arifin di sini," bebernya.
Menurut dia, pasangan suami istri itu belum dikaruniai anak. Keduanya menempati rumah tersebut sejak tahun 2001. Sampai sejauh ini, rumah tersebut masih di keliling garis polisi.


Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Suami Terduga Teroris Surabaya Diamankan Polisi, http://www.tribunnews.com/regional/2018/05/14/suami-terduga-teroris-surabaya-diamankan-polisi.

Editor: Sanusi

Air Terjun Sedudo

Posted by ilmu dasar kehidupan On 03:06 | No comments
Air Terjun Sedudo


    Air Terjun Sedudo adalah objek wisata yang terletak di Nganjuk tepatnya Kecamatan Sawahan Desa Ngliman. Tempat ini cukup tinggi dikarenakan ketinggiannya ialah 1.438 Mdpl. bukan hanya tempatnya yang sangat tinggi, bahkan air terjunnya juga sangat tinggi sekitar 105 m.
   Setiap tahun baru Jawa yang dikela Sura, Sedudo menjadi tempat yang ramai dikunjungi untuk melakukan ritual.







Pegunungan Krapyak - Sunan Pangkat

Posted by ilmu dasar kehidupan On 02:50 | No comments
Gunung Krapyak dan Sunan Pangkat


     Terdapat tempat religi serta camp yang cukup menarik untuk didatangi seperti halnya Sunan Pangkat dan Gunung Krapyak. Destinasi ini berada di kawasan Pacet Kab. Mojokerto tepatnya di daerah Padusan. 
      Saya juga baru tahu kalau terdapat tempat seperti ini, awalnya hanya ingin naik ke puncak gunung krapyak, ternyata setelah dua pertiga perjalanan terdapat tempat religi dimana tempat itu tersedia banyak air, sehingga menguntungkan para pendaki untuk mencari air. 
        Perjalan menuju Sunan Pangkat dan Gunung Krapyak dimulai dari tangga-tangga yang sangat tinggi, kira-kira bisa menguras tenaga dan membuat kaki agak lemes..heheh.. setelah melalu tempat religi spot yang dilalui ialah hutan. sesampai di tujuan akan terlihat gunung Welirang yang sangat agung













Tuesday, 13 February 2018

Folklor Mojokerto

Posted by ilmu dasar kehidupan On 01:21 | No comments
Folklor Mojokerto

A.      Gambaran Masyarakat Tempat Tumbuhnya Folklor Jawa
       Mojokerto adalah suatuu daerah yang adi luhung dengan kalimat lain yaitu daerah yang masih memperhatikan budaya serta tradisi-tradisi yang dturunkan oleh leluhur. Banyak tradisi-tradisi dan kebudayaan di setiap kecamatan yang ada dalam kabaten Mojokerto terutama berada pada kecamatan Trowulan. Setiap tahun Trowulan selalu mengadakan pagelaran wayang dan kirab lebih tepatnya pada waktu malam-malang menjelang tanggal 10 Sura (bulan Jawa) dan bertempat di Pendapa Agung Trowulan. Bahkan setiap bulan malam Jumat Wage, di pendapa juga mengadakan macapatan yang diikuti oleh orang-orang sekitar Trowulan bahkan pesertanya ada yang dari luar Mojokerto. Memang kecamatan Trowulan salah satu kecamatan yang tampak dalam pelestarian budaya Mojokerto. Tapi, jangan disangka luar kecamatan Trowulan tidak melestarikan budaya dan tradisi yang ada. Kecamatan-kecamatan lain yang berada dalam kawasan Mojokerto juga tetap mempertahankan tradisi-tradisi yang berlaku, seperti halnya pada bulan ruwah. setiap kecamatan mengadakan ruwahan juga disebut bersih desa atau juga ruwat desa. Fungsi dari kegiatan itu untuk menghalau penyakit-penyakit atau halangan yang dating pada desa dan juga membersihkan desa dari perbuatan-perbuatan yang kurang baik dari orang-orang dalam desa.
       Tetapi pada pembahasan kali ini yang akan dijelaskan bagaimana gambaran masyarakat di kecamatan Gondang. Gondang salah satu kecamatan dalam kawasan Mojokerto. Bertempat di sebelah selatan dengan lingkungan yang asri karena disekitar kawasan Gondang adalah pegunungan dan perbukitan. Pendapatan masyarakat di daerah ini (Gondang) kebanyakan adalah petani, pedagang, dan pencari kayu di hutan. Tetapi lambat laun seiring berkembangnya jaman daerah Gondang tepatnya sebelah utara (Gondang Utara) banyak orang-orang yang bekerja sebagai pedagang dan PNS. Meskipun begit nenek moyang dari Gondang adalah petani sehingga dominan pekkerjaan mereka adalah petani.
       Jika dipandang budaya dan tradisi yang berlaku, Kecamatan Gondang juga termasuk daerah yang masih mempertahankan tradisi. Seperti yang dijelaskan diatas. Memasuki bulan Ruwah yaitu salahh satu bulan Jawa Gondang selalu turut mengadakan bersih desa atau sering disebut Ruwahan. Acara yang digelar dengan mengadakan tumpengan, pagelaran Murwakala di siang hari, keudian dilanjutkan campursari pada sore hari, ketika malam pagelaran wayang kulit semalam suntuk.
       Daerah Gondang memang lumayan agak luas disbanding kecamatan lainnya. Banyak yang bilang anak-anak dari Gondang adalah anak yang ramah, itu menandakan bahwa adat yang berlaku di Gondang adalah keramahan. Didikan orang tua tak luput dari sifat terpuji, kemungkinan daerah pegunungan masih mengutamakan sifat andhap asor teradap orang lain.

B.       Makna dan Fungsi Folklor Jawa yang Berhubungan dengan Kritik Sosial
       Ada beberapa folklore lisan yang berlaku di kawasan ini dengan maksud mengkritik orang-orang yang telah melakukan kesalah, seperti dibawah ini:
       “Gajah ngideg rapah”. Kalimat tersebut adalah ungkapan yang terkadang dikatakan orang-orang kepada orang atas. Maksud  Gajah Ngidag Rapah adalah orang yang membuat aturan sendiri, tetapi dilanggar sendiri. Sehingga masyarakat  jika mengetahui ketuanya dalam arti kepala RT, Dusun, Desa dan pemerintah lainnya, mereka selalu mengatakan kalimat tersebut dengan fungsi mengkritik atasan dengan bahasa yang khas dan supaya atasan mengerti bahwa bawahan atau masyarakat sedang memiliki masalah dengan peraturan tersebut.
       Itu satu unen-unen yang berlaku di masrakat Gondang, adapun parikan yang berbunyi “Lombok abang gak pedes, wis Gerang gak nages”. Parikan tersebut berdialeg Surabaya-Mojokerto. Orang-orang dewasa yang mengetahui seseorang yang bermain dengan anak kecil padahal dirinya sudah dewasa contoh anak SMA bermain dengan anak SD, dengan spontan orang-orang akan berpantun “Lombok abang gak pedes, wis gerang gak nages”. Maksud dari pantun atau  parikan tersebut adalah seseorang yang sudah dewasa tapi masiih berkepribadian anak-anak. Jelas-jelas hal ini tidak patut dikalangan orang Jawa meskipun tidak menyalahi aturan.
       Folklor lain yang memiliki unsur kritik sosila juga berbentuk ­unen-unen,  seperti dibawah ini.
Tumbak cucukan, biasanya frase tersebut digunkan masyarakat Gondang, Mojokerto dalam kalimat seperti ini, “Ooo, dadi wong  kok senengane tumbak cucukan.” Kata-kata tumbak cucukan sebenarnya memiliki maksdu dan makna orang yang suka mengadu domba, memecah belah kerukunan. Sehinga masyarakat menyebut mereka dengan tumbak cucukan. Fungsi dari kata tersebut berlaku untuk mengkritik orang tersebut sehingga dia sadar akan kelakuannya yang tidak benar.
       Ungkapan laing yang hamper mirip dengan diatas terdapat pada ungkapan selanjutnya yang termasuk dalam folklor lisan seperti kata “Nabok nyilih tangan”. Orang yang suka menyakiti orang lain tetapi menggunakan orang lain untuk menyakiti orang tersebut. Seperti halnya menyewa orang untuk menganiyaya orang lain. Kata tesebur selalu muncul jika terdapat orang yang melakukan hal tersebut. Fungsi dari ungpakan seperti itu adalah mengkritik serta mencemooh agar si orang yang bersangkutan sadar atas kelakukannya yang tidak tepat, memang hamper sama dengan kata-kata yang diatas.
       Folklor lisan lain yang ditemukan di daerah Gondang Mojokerto terdapat pada ungkapan berikut, Cathek gawel. Ungkapan seperti ini muncul ketika ada seseorang yang kemudian ikut campur dalam omongan orang lain padahal orang tersebut dari awal tidak ikut dalam pembicaraan. Orang Gondang tidak bisa mentolansi hal tersebut, adat mereka tidak menyukai orang yang tiba-tiba ikut dalam pembicaraan. Maka mereka sering menyebut dalam kalimat “dadi bocah aja seneng nyathrk gawel”. Fungsi dari folklore lisan ini untuk piweling atau menasehati orang-orang bahkan yang terutama anak-anak supaya jangan ikut campur urusan orang lain, mengurus diri sendiri saja belum tentu bisa teratasi.
       Ada juga kritik yang digunakan untuk menasehati para wanita, folklore tersebut berbunyi “wong wedok kudu isok telung M”. Telung M yang dimaksug dalam folklore lisan tersebut ialah masak, macak, manak, yang memiliki makna seorang wanita harus bisa menguasai ketiga hal penting yang tidak lain ialah belajar memasak untuk keseharian keluarga, merias wajah untuk suami yang telah memberikan nafkah keluarga, dan melahirkan. Sebagai wanita yang normal ialah melahirkan ketika sudah waktunya. Fungsi dari folklore ini ialah sebagai nasehat orang tua kepada setiap wanita yang ada didaerah tersebut, bahwasannya wanita memiliki kewajiban itu.

C.      Makna dan Fungsi Folklor Jawa yang Berhubungan dengan Pendidikan
       Untuk folklo yang berhubungan dengan pendidikan ialaha pendidikan sopan santu, yang biasanya orang tua mengatakan kepada anaknya ang tengah duduk diantara pintu yang terbuka, seperti berikut “Aja mangan lungguh tengah lawang”.  Pintu adalah jalan utama untuk memasuki rumah, jadi itu merupakan perlambang penghambat untuk masuknya rejeki ke dalam keluarga. Fungsi dari kalimat tersebut untuk menasehati kepada anak dan memberikan pendidikan perilaku yang baik. Sopan santun merupakan hal yang paling utama di kalangan Gondang.
       Folklor lain yang ditemukan di daerah Gondang, Mojokerto ialah ”Aja mangan brutu marai pikun”. Folklor ini selalu muncul ketika terdapat anak kecil yang hendak memakan brutu bagian belakang lauk ayam. Orang tua selalu mengatakan hal tersebut sehingga sang anak tidak akan memakan lauk tersebut. Makna yang terdapat pada folklore ini sebenarnya bertujuan semoga anak itu ingat bahwa daging yang kenyal itu diberikan kepada orang tua bukan anak. Dalam kata lain semoga anak selalu ingat kepada orang tua. Fungsi yang tersirat dalam kalimat ini sebenarnya tidak jauh dari folklore yang diatas. Bertujuan memberikan nasehat kepada anak, memberikan pendidikan unggah-ungguh, kesopan santunan anak terhadap orang yang lebih dewasa.
       Ada juga folklore yang berkembang sampai sekarang seperti “Yen teka kuburan adus dhisik”. Memiliki makna bahwa pemakaman adalah tempat yang penuh debu, sehingga anak atau orang yang habis dari makam hendaknya mandi terlebih dahulu. Fungsi yang terkandung memiliki peran pendidikan yang berupa nasehat  menganjurkan menjaga kesehatan.
       Folklor yang lain seperti “Aja seneng tukaran mengko dadi bedhes”. Makna dari kalimat ini ialah menjaga persaudaraan itu penting jangan saling bermusuhan. Orang yang sering bertengkar satu sama lain terlihat persis seperti binatang kera, maka dari itu folklore yang berkembang menjadi seperti itu. Fungsi yang ditemukan dalam folklore ini ialah pendidikan moral, kita harus saling menjaga penghormatan. Saling menghargai terhadap sesama.
       Adapun ketika orang sedang menanak nasi folklore lisan juga sering muncul “yen adang aja ditinggal”. Yang berarti kalau sedang menanak nasi jangan pernah ditinggal. Tetapi saat ini folklor jarang digunakan karena kebanyakan keluarga menanak nasi dengan menggunakan rice cooker. Walaupun demikian folklore lisan ini memiliki makna mengajari tentang kesabaran untu menuju keberhasilan. Fungsi yang terdapat pada kalimat ini juga sebagai ajaran yang mengasah ketekunan dan keuletan.

D.      Makna dan Fungsi Folklor Jawa yang Berhubungan dengan Lingkungan
       Adapun juga folklore yang memiliki hubungan dengan lingkungan. Folklore ini digunakan orang-orang terdahulu unutk menjaga lingkungan sekitar agar tetap terjaga keasrianya. Sehingga tetap teduh dan rindang. Folklore pertama yang ditemukan di Gondang ialah “Aja nebang wit pring kuning pinggir kali mengko bisa kowe cilaka”. Folklore ini berkembang untuk menakuti orang-orang agar tidak menebang pohon. Makna lain yang tersirat dalam folklot ini ialah menjaga lingkungan sekitar dan fungsinya ialah agar tidak ada orang-orang yang merusak lingkungan, sehingga tetap tumbuh sedap dipandang.
       Ditemukan juga folklore yang masih berkembang sampai sekarang “Aja nyebak iwak buri kuburan mengko ditekani sing duwe”. Lingkungan sekitar juga termasuk perkembangan hewan air, termasuk ikan dibelakang pemakaman. Maksud dari diparani sing duwe ialah setan penghuni kuburan. Folklore ini memiliki makna agar menjaga komunitas ikan-ikan agar tidak hilang. Fungsi ini memberikan nasehat agar orang menjaga keasrian lingkungan.
       Dirumah juga terdapat folklore yang masih berkembang sampai sekarang yaitu “Yen nyapu omah sing resik mengko bojone brewok”. Folklore ini selalu ada ketika seorang gadis kecil yang menyapu rumah. Seketika juga ibu mengatakan folklore tersebut. Sebenarnya folklore ini memiliki makna agar si gadis menjaga kebersihan rumah, karena kebanyakan dari gadis-gadis takut dengan orang yang memiliki jenggot dan kumis yang tebal. Fungsi dari folklore ini ialah sebagai nasehat untuk menjaga kebersihan lingkungan rumah.

E.       Kesimpulan
       Folklor-folklor di daerah Gondang masih bisa ditemukan, bahkan masih banyak yang belum terungkap. Setiap folklor-folklor yang ada dan berkembang dimasyarakat memiliki makna dan fungsi tersendiri. Terdapat makna dan fungsi dalam folklor untuk mengkritik orang lain ketika mereka melakukan kesalan, ada juga yang berfungsi untuk menjaga lingkungan agar terlihat tetap asri menjaga dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Bahkan ditemukan juga folklor-folklor lisan yang berfung mendidik orang agar menjadi orang yang lebih baik, diawali dari pendidikan moral, etika, dan juga pengetahuan. Demikian folklore-folklor yang telah ditemukan di daerah Gondang Mojokerto.


Aswatama Putra Durna

Posted by ilmu dasar kehidupan On 01:18 | No comments
Aswatama Nglandhak


Perang Bharata Yudha telah usai, Resiwara Bisma telah moksha ke alam kadewatan sesuai dengan waktu yang diinginkannya, setelah kematian Prabu Duryudana sebagai penutup Perang Bharatayudha. Resiwara Bisma dalam perjalanannya menuju surga bertemu dengan Dewi Amba, kekasih pujaannya di dunia. Ia kelihatan bahagia. Hal itu tidak terjadi kalau ia masih hidup. Karena di dunia ia seorang Brahmacari. Kurawa pun sudah habis, semua sudah gugur di medan perang Kurusetra. Demikian pula Pandawa juga telah kehilangan banyak sanak saudaranya.
Dewi Drupadi, juga mengalami hal yang serupa, ia telah kehilangan ayahnya, Prabu Drupada. Keluarga Wirata, telah kehilangan Prabu Matswapati, Raden Seta, Raden Utara dan Raden Wratsangka dalam Perang Bharatayudha. Terlebih lagi Pandawa disamping telah kehilangan sanak saudaranya, ia juga kehilangan saudara-saudaranya Para Kurawa. Eyangnya, Gurunya, sahabat serta kerabatnya. Namun yang menjadikan Keluarga Pandawa mempunyai semangat hidup mereka masihmemiliki ibu Kunti dan Eyang Abiyasa.
Dengan kemenangan Pandawa, maka Pandawa beserta seluruh keluarga yang tersisa memasuki Istana Astina. Kedatangan Para Pandawa disambut oleh Dewi Kunti. Dewi Kunti terharu, karena betapa mahalnya untuk sebuah kemerdekaan Indraprasta, terlalu banyak yang menjadi korbannya. Dewi Kunti juga mengucapkan terima kasihnya pada Kresna yang telah mendampingi Para Pandawa selama Perang Bharatayudha. Kedatangan Pandawa teah diketahui oleh Uwa Prabu Drestarasta dan Uwa Dewi Gendari. Para Pandawa dijemput oleh paman Yama Widura yang merangkulnya penuh keharuan. Dalam Perang Bharatayudha, Paman Yama Widura kehilangan satu orang puteranya, Sang Yuyutsu, yang telah gugur di medan pertempuran Bharatayudha dipihak Pandawa
Ketika mereka sedang berbincang-bincang, datanglah Sanjaya, anak Paman Yama Widura pertama, yang disuruh Uwa nya Prabu Drestarasta, agar Pandawa keistana Kasepuhan , karena Prabu Drestarasta telah menunggu kedatangan para Pandawa. Sementara itu Prabu Sri Batara Kresna merasakan firasat yang buruk. Prabu Kresna membisikkan agar para Pandawa berhati-hati dan waspada dalam menghadapi segala kemungkinan yang ada, karena ini mengkin perang belum selesai. Pandawa memakluminya. Mereka segera menemui Uwa Prabu Drestarasta.
Prabu Drestarasta sedang duduk serimbit dengan Dewi Gendari. Prabu Drestarasta memeluk satu persatu para Pandawa. Walaupun ia memeluk para Pandawa, namun sebenarnya hatinya merindukan anak-anak kandungnya sendiri, yaitu para Kurawa yang telah tiada. Sekarang giliran Werkudara yang hendak dipeluk Prabu Drestarasta. Werkudara segera mendekati Uwa nya. Namun Prabu Kresna menarik tangan Werkudara, sambil berbisik, tidak perlu mendekati. Biar saja Uwa nya yang datang menjemput. Prabu Drestarasta menangisi kematian para puteranya, para Kurawa, karena tidak satupun yang disisakan hidup oleh Para Pandawa. Sebenarnya Pandawa bisa saja menyisakan Duryudana untuk hidup. Tetapi semuanya sudah terjadi. Prabu Drestarasta akhirnya bediri mendekati Werkudara. Sementara itu Werkudara berdiri dekat sebuah patung raksasa sebesar Werkudara. Werkudara mnghindar ketika Uwa nya mengulurkan kedua tangannya untuk memeluknya. Tetapi yang tersentuh adalah Patung raksasa yang menghalangi Werkudara dan patung pun menjadi hancur lebur. Dari kedua tangan Uwa nya, masih mengeluarkan api yang menyala-nyala.
Semua terjadi karena Uwa nya telah menyalurkan aji Kumbalageni yang sebenarnya ditujukan untuk membunuh Werkudara. Keadaan menjadi hening tidak satupun orang berkata. Prabu Drestarasta menyesal telah membunuh Werkudara. Ia mohon maaf kepada Dewata karena ia tidak mampu menahan nafsu balas dendam pada Pandawa khususnya Werkudara yang telah membunuh Duryudana anak yang paling dicintainya. Andaikata ia mampu, Werkudara akan dihidupkannya kembali. Ia menyesal tak bisa menjaga amanat Pandu adiknya, untuk menjaga keselamatan para Pandawa. Namun Dewi Gendari berkata lain, ia menyesal melihat kegagalan Prabu Drestarasta untuk membunuh Werkudara.
Dewi Gendari bersupata , bahwa Kresna juga akan mengalami penderitaan Bangsa Kuru, karena Kresna adalah yang membunuh seluruh para Kurawa, walaupun tidak dengan tangannya sendiri. Maka bangsa Yadawa juga akan mengalami hal yang sama. Bangsa Yadawa akan mengalami perpecahan, hingga terjadi pertumpahan darah antara bangsa Yadawa sendiri, yang pada akhirnya bangsa Yadawa tertumpas habis dengan sendirinya.
Prabu Kresna terperanjat mendengar supata Dewi Gendari. Keadaan menjadi hening, tidak satupun orang bersuara. Prabu Drestarasta merasa bahagia ketika menegtahui Werkudara masih hidup. Werkudara kemudian merangkul Prabu Drestarsta, Prabu Drestarasta mengharap diantara yang masih hidup jangan ada pertengakaran lagi, jangan ada pembunuhan lagi. Prabu Batara Kresna mohon maaf kepada Prabu Drestarasta dan Ibu Gendari serta siapa saja yang dendam pada Prabu Kresna dan juga atas nama Pandawa, yang didalam Perang Bharatayudha juga memakan korban banyak para putera Pandawa, termasuk juga kehilangan saudara-saudara para Kurawa, maupun Kurawa. Prabu Drestarasta akhirnya merelakan kepergian seluruh para puteranya yaitu para Kurawa.
Para Pandawa kemudian mohon pamit untuk memasuki pakuwon Pandawa. Disanalah para Pandawa beristirahat. Sementara itu Dewi Uttari telah melahirkan seorang anak yang tampan. Arjuna memberi nama Parikesit. Setelah kelahiran Parikesit, Prabu Sri Batara Krena berpesan agar para Pandawa tidak boleh lengah, tetap waspada, dan jagalah bayi Parikesit dari segala yang mengancam. Prabu Kresna berpesan agar bayi ditinggalkan tidak dijaga, dan dibawah kaki Parikesit ditaruh senjata pusaka Pulanggeni yang sudah dilepas dari warangkanya. Setelah banyak berpesan, Prabu Sr Batra Kresna berpamitan kembali ke Dwarawati dalam keadaan darurat. Sampai tengah malam Pandawa masih kuwat untuk berjaga menunggui bayi Parikesit yang tertidur di tempatnya.
Sementara itu, Aswatama yang sudah lama menghilang dari medan perang Kurusetra, yang sejak pengangkatan Prabu Salya menjadi senapati, dimana Aswatama memprotes pengangkatan itu, karena sudah jelas kelihatan curangnya Prabu salya yang menyelamatkan kematian Arjuna dari Karna.
Kini Aswatama telah muncul kembali. Kali ini ia telah menghimpun kekuatan baru, yaitu bergabung dengan Resi Krepa dan Kertawarma. Kertawarma adalah adik dari Prabu Duryudana yang satu-satunya masih hidup. Para Pandawa dan bahkan Prabu Drestarasta tidak menyangka, ternyata masih ada sisa Kurawa yang masih hidup.
Mereka berencana mau memberontak ke Astina, untuk merebut kembali Astina pura ketangan Kurawa. Tetapi mereka tidak ada keberanian. Pertapaan Sokalima walaupun luasnya sama dengan Kerajaan Pancala, namun tidak memiliki prajurit. Mereka memutuskan akan memasuki Istana Astina secara diam-diam, pada malam hari dan akan membunuh orang-orang Pandawa sebanyak-banyaknya.
Sebenarnya Aswatama sudah membuat terowongan di taman Kadilengen, dan sudah tertembus ke Goa. Sekarang Aswatama dengan bekal sebuah oncor sebagai penerang jalan, dan ditemani Kertawara dan Resi Krepa memasuki terowongan. Namun ditengah jalan, mereka terkejut karena ada sebagian tanah yang gugur sehingga menutup jalan masuk ke Goa. Aswatama terpuruk, terlebih lagi ketika api oncor padam, tidak tahu harus bagaimana. Tiba-tiba saja ada cahaya yang menerangi Goa. Ternyata Dewi Wilutama datang menolong.
Dewi Wilitama adalah ibu Aswatama. Dewi Wilutama menerangi Goa dengan sinar kedua telapak tangannya. Pintu Goa yang telah dilalui juga roboh dan menutupi  pintu Goa. Sehingga walaupun mereka pulang juga tidak bisa keluar. Mereka terjebak di dalam Goa, pulang tidak bisa, terus juga tidak bisa.
Dewi Wilutama menanyakan , apakah mereka mau membatalakan niatnya sehingga mau kembali ke jalan semula, atau mau meneruskan kehendaknya. Namun, Aswatama memilih ingin meneruskan perjalannya ke Astina. Dewi Wilutama tidak ingin membantu keinginan Aswatama dan juga tidak mau ikut bertanggung jawab atas perbuatan Aswatama yang akan dilakukan. Dewi Wilutama membuka jalan pintu Goa. Sehingga apabila mereka berniat mau pulang kembali ke Sokalima.
Resi Krepa ganti membujuk Aswatama agar pulang saja kembali ke Sokalima. Akhirnya Resi Krepa meninggalkan mereka semua, kembali ke pertapaannya. Dewi Wilutama sebelum meninggalkan Aswatama meninggalkan pusaka cahaya, yang akan menerangi Goa, dan sampai di taman Kadilengen, maka kembalilah Dewi Wilutama ke kahyangan.
Dalam waktu singkat Aswatama beserta Kertawarma tidak mengikuti kepergian Aswatama yang memasuki Istana Astinapura. Kertawarma menunggu di luar Istana. Ia bersembunyi di luar Istana.
Aswatama membaca mantera agar orang-orang yang ada di dalam Istana Astina tetidur. Sementara itu seluruh penghuniIstana telah tertidur semua. Memasuki kamar pertama, terlihat Pancawala dan Drestajuma sedang tidur dengan nyenyaknya. Tanpa pikir panjang lebar, ditebasnya calon Raja Astina baru, Pancawala dan Pembunuh ayahnya yaitu Drestajumna sehingga terpelantinglah kedua kepalanya.
Dendam masih membara ia membuka kamar yang kedua, terlihat Srikandi tidur tergeletak tak berdaya, ia kelihatan lemah gemulai seperti wanita-wanita biasa lainnya, walaupun dalam perang Bharatayudha ia kelihatan gagah perkasa bagaikan seorang pria jantan dalam mengahadapi musuh-musuhnya. Ia akan segera membunuhnya, tetapi dirasanya percuma saja karena tidak merasakan sakitnya kalu dibunuh. Srikandi tidak akan merasakan kematiannya. Dengan cepat penuh dendam Aswatama menjambak rambut Srikandi. Srikandi terbangun, dan terkejut ada Aswatama masuk kamar dan dirinya sudah dipegang oleh Aswatama. Ia berusaha melawan tapi tak berdaya. Aswatama menjambak Srikandi dan membentur-benturkan kepala Srikandi ke dinding kamar hingga tewas.
Dendam masih membara, ia melihat Dewi Sembadra sedang tertidur pulas, langsung dibunuh sebagai pembayar utang Arjuna, demikian pula Niken Larasati dan Sulastri terbunuh ditangan Aswatama.
Dilihatnya pula Dewi Banowati istri Prabu Duryudana, dengan pandangan sinisnya, menganggap Dewi Banowati adalah seorang wanita murahan dengan mudahnya selingkuh dengan Arjuna. Tanpa ampun lagi Dewi Banowati dbunuhnya.
Aswatama tidak mengetahui posisi dimana Parikesit tidur karena pengaruh senjata Pulanggeni, dan pasti pula di dalam lindungan Dewata. Aswatama melihat pula Dewi Drupadi, namun ketika akan membunuhnya terdengar seperti ada suara tangisan bayi, Aswatama terkejut. Ia mengalihkan niatnya untuk membunuh Drupadi, dan ia akan melihat dengan mata batinnya suatu tempat yang penuh kabut. Aswatama melihat bayi itu. Aswatama memandang benci kepada Parikesit, karena Pancawala sudah terbunuh, maka bayi ini adalah pewaris tahta Astinapura. Segera Aswatama berusaha menikam bayi itu. Tetapi kekuasaan Dewa yang menentukan lain. Tiba-tiba saja keris Pulanggeni yang terletak dibawah kaki jabang bayi, dan keris Pulanggeni terpental dan menembus dad Aswatama. Aswatama pun tewas.
Sementara ada keributan dan suara tangisan mereka yang terhindar dari pembunuhan, seperti Dewi Untari dan Dewi Drupadi. Menjadikan Werkudara dan Arjuna terbangun dari tidurnya. Mereka langsung keluar dari Keputren. Sementara itu Kertawarma bersiap memukul Werkudara, andaikata melewati persembunyiannya, Kertawarma seger memukul Werkudara dengan gadanya dengan keras, namun Werkudara dapat menangkisnya.
Terjadilah perkelahian, antara Werkudara dan Kertawarma. Kepala Kertawarma pun pecah terkena pukulan Gada Rurajpala milik Werkudara. Kertawarma pun tewas. Lagi-lagi Pandawa dirundung duka. Semua istri Arjuna yang berada di istana terbunuh semua, juga Dewi Drupadi kehilangan puteranya Pancawala, Srikandi dan Drestajumna. Arjuna semakin tersayat hatinya melihat jasad Dewi Banowati yang wajahnya dirusak oleh Aswatama.
Seluruh keluarga Pandawa berduka. Prabu Kresna kecewa tidak bisa ikut menjaga ketentraman Istana Astina. Prabu Kresna sediri masih menghadapi pergolakan keluarga Yadawa. Prabu Kresna meminta agar Puntadewa segera menyiapkan pemerintahan Astina. Untuk itu dibutuhkan pengangkatan seorang raja. Setelah mereka berembug bermusyawarah, maka ditunjuklah Parikesit menjadi raja Astina. Mengingat Parikesit masih bayi, maka Puntadewa diminta untuk menjadi wali. Maka diangkatlah Prabu Puntadewa mewakili Parikesit. Dengan gelar Prabu Kalimataya. Uwa Drestarasta merestui pengangkatan Puntadewa menjadi Ratu Wali. Prabu Klaimataya dalam pemerintahannya dibantu oleh Sadewa, Sadewa ditunjuk menjadipatih Kerajaan Astinapura. Sedangkan Nakula menjadi raja di Mandaraka menggantikan Uwa nya, Prabu Salya. Prabu Salya lebih mencintai anak Dewi Madrim adiknya. Lagi pula seluruh anaknya tewas dalam perang Bharatayudha. Sedangkan Sadewa menjadi patih di Istana Astinapura, mendampingi Prabu Parikesit.

Cerita Aswatama nglandak, atau Aswatama Nggangsir atau dikenak juga dengan Parikesit Lahir Nglandak, artinya berperilaku seperti Landak. Jadi maksudnya, Aswatama, Kertawarma dan Resi Krepa bermaksud ke Astinapura dengan cara membuat gangsir dibawah tanah menuju Astinapura.

Total Pageviews

anti block

G.ads