Tuesday, 13 February 2018

Gunungan dan Gending

Posted by ilmu dasar kehidupan On 00:52 | No comments
GUNUNGAN DAN GENDING 
DALAM PEWAYANGAN
















A.    Pendahuluan
Wayang Purwa adalah sebagai pralambang kehidupan manusia di dunia ini, atau wayang purwa adalah bagian dari macam yang ada, diantaranya wayang gedhog, wayang madya, wayang klithik purwa, wayang wahyu, wayang wahana dsb.
Wayang Purwa sudah ada pada beberapa ratus tahun yang lalu dimana wayang timbul pertama kalinya sebagai upacara menyembah roh nenek moyang. Jadi merupakan upacara khusus yang dilakukan nenek moyang untuk mengenang arwah para leluhur. Bentuk wayang masih sangat sederhana, yang dipentingkan bukan bentuk wayang, tetapi bayangan dari wayang tersebut.
Perkembangan jaman dan budaya manusia selalu berkembang, bentuk wayang pun ikut berubah. Perkembangan wayang pesat pada jaman wali, diantaranya Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, dan yang ikut merubah bentuk wayang sehingga lebih indah bentuknya. Langkah penyempurnaan agung hanyakrakusuma, jaman kerajaan pajang, kerajaan Surakarta jaman Paku Buwana banyak sekali penyempurnaan bentuk wayang, sehingga banyak bentuk yang seperti ini.
Ada bagian wayang yang sangat penting yaitu Gunungan dan Gendhing. Gunungan atau disebut juga dengan kayon adalah gambar wayang yang bentuknya mirip sepucuk gunung yang mencuat tinggi keatas. Sedangkan, gendhing adalah music untuk mengiringi sebuah pagelaran wayang. Disini akan dijelaskan makna dari Gunungan dan Gendhing pada sebuah pagelaran wayang purwa.

  
A.    Penjelasan
Dibawah ini akan dijelaskan makna dari Gunungan dan Gendhing.
1.      Gunungan
Dinamakan Gunungan karena bentuknya mirip sepucuk gunung yang mencuat tinggi keatas. Adapun kita melihat gunungan yaitu pada saat pakeliran belum dimulai, gunungan ditancapkan tegak lurus ditengah kelir pada batang pisang bagian atas. Gunungan ini dalam legendanya berisi mitos sangkan paraning dumadi, yaitu asal mulanya kehidupan ini dan disebut juga kayon. Kata kayon melambangkan semua kehidupan yang terdapat di dalam jagad raya yang mengalami tiga tingkatan yakni:
Tanam tuwuh (pepohonan) yang terdapat di dalam gunungan, yang orang mengartikan pohon Kalpataru, yang mempunyai makna pohon hidup.
Lukisan hewan yang terdapat di dalam gunungan ini menggambarkan hewan- hewan yang terdapat di tanah Jawa.
Kehidupan manusia yang dulu digambarkan pada kaca pintu gapura pada kayon, sekarang hanya dalam prolog dalang saja.
Kayon atau gunungan yang biasanya diletakkan di tangah kadang disamping itu mempunyai beberapa arti, arti dari diletakkannya gunungan ada 3 yakni:
  • Dipergunakan dalam pembukaan dan penutupan, seperti halnya layar yang dibuka dan ditutup pada pentas sandiwara.
  • Sebagai tanda untuk pergantian jejeran (adegan/babak).
  • Digunakan untuk menggambarkan pohon, angin, samudera, gunung, guruh, halilintar, membantu menciptakan efek tertentu (menghilang/berubah bentuk).
Tetapi jika pakeliran sudah dimulai maka gunungan ditancapkan pada simpingan bagian kanan dan kiri. Gunungan dilambangkan keadaan dunia dan isinya, sebelum wayang dimainkan gunungan ditancapkan ditengah-tengah kelir agak cenderung kekanan, yang artinya dunia ini masih kosong, yang ada hanyalah Pengeran Jati “Pandhapi Suwung”. Gunungan merupakan simbol kehidupan, jadi setiap gambar yang berada di dalamnya melambangkan seluruh alam raya beserta isinya mulai dari manusia sampai dengan hewan serta hutan dan perlengkapannya. Gunungan dilihat dari segi bentuk segi lima, mempunyai makna bahwa segi lima itu lima waktu yang harus dilakukan oleh agama adapun bentuk gunungan meruncing ke atas itu melambangkan bahwa manusia hidup ini menuju yang di atas yaitu Allah SWT.
ü  Bentuk Umum Kayon
Apabila di amati secara jelas maka kayon terbagi menjadi dua bentuk. Pembagian bentuk tersebut adalah setengah bagian atas berbentuk segitiga dan setengah bagian bawah berbentuk segiemat. Bilangan dua (2) tersebut apabila dihubungkan dengan lingkungngan maka melambangkan isi dunia (isen-isene donya), contoh waktu yaitu siang dan malam, jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan, tempat yaitu atas dan bawah, sisi yaitu kanan dan kiri, kelakuan yaitu baik dan buruk, hukum yaitu benar dan salah, rasa yaitu pahit dan manis, suasana yaitu senang dan susah, ukuran yaitu berat dan ringan, dan lain-lainnya.
1)      Bentuk Segitiga
Bentuk kayon setengah bagian atas adalah bentuk segitiga yang mempunyai tiga sisi. Angka tiga melambangkan perjalanan kehidupan, yaitu permulaan, pertengahan, akhiran (purwa, madya, wasana), yang artinya adalah bahwa, kehidupan itu dari tidak ada, menjadi ada, dan kembali menjadi tidak ada yang lebih dikenal dengan istilah sangkan paraning dumadi yaitu lahir, hidup dan mati. Ucapan dalang pada saat wayang sumbar khususnya dalang Jawatimuran, akan menyebutkan tiga hal sebagai peringatan terhadap musuh. Tiga hal peringatan tersebut adalah sebagai berikut “pisan tak sepura, pindho kalamerta, ping telu rad pengadilan”, yang artinya pada saat 87 bertempur di meda perang, kekalahan pertama akan di maafkan, kekalahan kedua anjuran untuk memilih maju atau mundur, kekalahan ketiga berarti mati.

2)      Bentuk Segiempat
Bentuk kayon setengah bagian bawah adalah segiempat yang menunjukan arah kiblat, yaitu utara, selatan, timur, barat. Dalam kehidupan melambangkan nafsu pada diri manusia, yaitu aluamah, supiah, mutmainah dan amarah (empat nafsu manusia). Sedangkan bentuk keseluruhan kayon adalah meruncing ke atas, hal tersebut dapat diartikan bahwa semua kehidupan akhirnya akan menyatu dan kembali menuju ke Yang Satu, yaitu ke Yang Maha Kuasa.
ü  Fungsi Kayon
Adapun yang dimaksud fungsi kayon adalah untuk melambangkan dan menggambarkan berbagai hal yang tidak dapat di wujudkan secara nyata sehingga hanya merupakan lambang dan gambaran-gambaran saja. Fungsi kayon tersebut di antaranya adalah sebagai lambang benda mati, contoh batu, tanah, air dan lain-lainnya, sebagai lambang benda hidup, contoh manusia, binatang, pohon, dan lain-lainnya, alih adegan atau beralih tempat, contoh dari adegan jejer ke adegan bedholan, dari adegan paseban njaba ke adegan perang, dan lain-lainnya, alih pathet yang di bagi menjadi tiga bagian, yaitu pathet Wolu, pathet Sanga, pathet Serang (pedalangan Jawatimuran), pathet Nem, pathet Sanga, pathet Manyura (pedalangan Surakarta). Ketiga pathet tersebut melambang kehidupan manusia di masa kecil atau kanak-kanak, di masa remaja, dan di - masa tua.
Kegunaan gunungan dipakai juga buat tanda akan mengganti cerita. Gunungan terdapat pada setiap pagelaran wayang, misalnya: wayang purwa, wayang gedog, wayang krucil, wayang golek, wayang suluh, dsb. Jenis kayon atau gunungan terbagi menjadi dua, yaitu:
a.      Kayon gapuran (Laki-laki)
Gunugnan Gapuran (Gerbang) sendiri digunakan pada masa pemerintahan Suushunan Pakubuwono 2, dengan sengkalan ” Gapura lima retuning bumi” 1659 J=1734 M.
     Adapun ciri-ciri kayon gapuran adalah sebagai berikut:
1)      Bentuk ramping
2)      Lebih tinggi dari kayon Blumbungan
3)      Bagian bawah berlukisan gapura
4)      Samping kanan dan kiri dijaga dua raksasa kembar yaitu Cingkarabala dan Balaupata
5)      Bagian belakang berlukisan api merah membara


Gambar Kayon didalamnya  ada:
1)      Rumah atau balai yang indah dengan lantai bertingkat tiga
2)      Dua raksasa kembar lengkap dengan perlengkapan jaga pedang dan tameng, sebagai perumpamaan pintu gerbang istana dan dipergunakan pada waktu wayang bermain di istana.
3)      Dua naga kembar bersayap dengan dua ekornya habis pada ujung kayon.
4)      Gambar hutan belantara dengan suburnya dengan kayu yang besar penuh dengan satwanya, hal tersevut menggambarkan kehidupan di dalam hutan
5)      Gambar macan berhadapan dengan banteng
6)      Pohon besar yang tinggi dibelit ular besar dengan kepala berpaling kekanan, merupakan kehidupan didalam hutan
7)      Dua kepala makara ditengah pohon
8)      Dua ekor kera dan lutung sedang bermain diatas pohon
9)      Dua ekor ayam hutan sedang bertengger diatas pohon
10)   Di belakang gunungan ada gambar warna merah, dibuat perumpamaan api yang mempunyai makna hawa nafsu seseorang yang berkobar-kobar seperti api.
b.      Kayon Blumbangan (Perempuan)
Di balik  gunungan Blumbangan ini dapat kita lihat sunggingan yang menggambarkan api sedang menyala. Ini merupakan candrasengkalan yang berbunyi “geni dadi sucining jagad” yang mempunyai arti 3441 dan apabila dibalik menjadi 1443 tahun Saka. Itu diartikan bahwa gunungan tersebut diciptakan oleh Sunan Kalijaga pada tahun 1443 Saka= 1521 Masehi pada masa pemarintahan Raden Patah.
Cirri-ciri:
1)      Bentuk gemuk
2)      Lebih pendek dari kayon gapuran
3)      Bagian bawah berlukisan kolam dengan air yang jernih
4)      Ditengah ada gambar ikan berhadap-hadapan ditengah kolam
5)      Bagian belakang berlukisan awan putih

  
c.       Kesimpulan dari kedua kayon
Dalam kayon terdapat ukiran-ukiran atau gambar yang diantaranya :
·         Rumah atau balai yang indah dengan lantai bertingkat tiga melambangkan suatu rumah atau negara yang di dalamnya ada kehidupan yang aman, tenteram dan bahagia.
·         Dua raksasa kembar lengkap dengan perlengkapan jaga pedang dan tameng. diinterprestasikan bahwa gambar tersebut melambangkan penjaga alam gelap dan terang
·         Dua naga kembar bersayap dengan dua ekornya habis pada ujung kayon.
·         Gambar hutan belantara yang suburnya dengan kayu yang besar penuh dengan satwanya.
·         Gambar ilu-ilu Banaspati melambangkan bahwa hidup di dunia ini banyak godaan, cobaan, tantangan dan mara bahaya yang setiap saat akan mengancam keselamatan manusia.
·         Pohon besar yang tinggi dibelit ular besar dengan kepala berpaling kekanan.
·         Dua kepala makara ditengah pohon melambangkan manusia dalam kehidupan sehari mempunyai sifat yang rakus, jahat seperti setan.
·         Dua ekor kera dan lutung sedang bermain diatas pohon dan dua ekor ayam hutan sedang bertengkar diatas pohon, macan berhadapan dengan banteng.
Menggambarkan tingkah laku manusia.
Kebo = pemalas
Monyet = serakah
Ular = licik
Banteng = lambang roh , anasir tanah , dengan sifat kekuatan nafsu Aluamah
Harimau = lambang roh , anasir api dengan sifat kekuatan nafsu amarah, emosional, pemarah
Naga = lambang Roh , anasir air dengan sifat kekuatan nafsu sufiah
Burung Garuda = lambang Roh , anasir udara dengan sifat kekuatan nafsu Muthmainah.
·         Gambar raksasa digunakan sebagai lambang kawah condrodimuka, adapun bila dihubungkan dengan kehidupan manusia di dunia sebagai lambang atau pesan terhadap kaum yang berbuat dosa akan di masukkan ke dalam neraka yang penuh siksaan.
·         Gambar samudra dalam gunungan pada wayang kulit melambangkan pikiran
·         Gambar api merupakan simbol kebutuhan manusia yang mendasar karena dalam kehidupan sehari-hari akan membutuhkannya.
·         7 anak tangga: berarti tujuan atau PITUtur (pemberitahuan) bahwa kita semua yang bernama hidup pasti mati kullu nasi dha ikhotul maut “.
·         Gerbang/pintu selo manangkep: pintu alam kubur yang kita tuju.
·         Pohon hayat: jalan hidup seseorang yang lurus dan mempunyai 4 anak cabang yang menjadi perlambang nafsu kita dan banyak anak cabangnya.
Sedangkan dari filosofi bentuk adalah : bentuk gunungan sendiri menyerupai serambi bilik kiri yang ada di dalam tubuh kita, itu mungkin mempunyai makna kalau kita harus menjaga apapun yang ada di dalam hati kita hanya kepada sang pencipta. Dan yang lebih hebat lagi adalah dari segi bentuk yang persisi dengan “mustoko” di atas masjid yang ada banyak di negara kita. itu perlambang dari sipembuat untuk kita supaya menjaga hati kita secar lurus (seperti pohon) kepada masjid/agama/tuhan.
Gunungan bisa diartikan lambang Pancer, yaitu jiwa atau sukma, sedang bentuknya yang segitiga mengandung arti bahwa manusia terdiri dari unsure cipta, rasa dan karsa. Sedangkan lambang gambar segi empat lambing sedulur papat dari anasir tanah, api , air, udara.
Gunungan atau kayon merupakan lambang alam bagi wayang, menurut kepercayaan hindu, secara makrokosmos gunungan yang sedang diputar-putar oleh sang dalang, menggambarkan proses bercampurnya benda-benda untuk menjadi satu dan terwujudlah alam beserta isinya. Benda-benda tersebut dinamakan Panca Maha Bhuta, lima zat yakni: Banu (sinar-udara-setan), Bani (Brahma-api), Banyu (air), Bayu (angin), dan Bantala (bumi-tanah).
Makara yang terdapat dalam pohon Kalpataru dalam gunungan tersebut berarti Brahma mula, yang bermakna bahwa benih hidup dari Brahma. Lukisan bunga teratai yang terdapat pada umpak (pondasi tiang) gapura, mempunyai arti wadah (tempat) kehidupan dari Sang hyang Wisnu, yakni tempat pertumbuhan hidup.
Berkumpulnya Brahma mula dengan Padma mula kemudian menjadi satu dengan empat unsur, yaitu sarinya api yang dilukiskan sebagai halilintar, sarinya bumi yang dilukiskan dengan tanah di bawah gapura, dan sarinya air yang digambarkan dengan atap gapura yang menggambarkan air berombak. Dari kelima zat tersebut bercampur menjadi satu dan terwujudlah badan kasar manusia yang terdiri dari Bani, Banyu, Bayu, dan Bantala, sedang Banu merupakan zat makanan utamanya.

2.      Gendhing
Gending Jawa adalah alunan musik atau irama yang disajikan dalam bahasa Jawa. Gending Jawa bisa berupa gendinggiro, macapat, karawitan, campusari, maupun uyon-uyon. Ketujuh gendhing Patalon tersebut tak lain dimaksud simbol dari ketujuh pangkat “Penjelmaan Dzat” atau ketujuh martabat, yaitu : Pohon dunia, Cahaya (Nur), Cermin, Wajawa (roh idhafi), Dian (kandil), Permata (dharrah) dan dinding jalal (penjelmaan alam insan kamil). Di samping itu Patalon juga merupakan pernyataan karya dari yang menanggap wayang, bahwa pertunjukan wayang akan segera dimulai. Namun dalang (roh) belum kelihatan atau menjelma.
Bila gendhing Patalon sudah selesai, barulah dalang naik panggung, kemudian dia memukul atau ndhodog kotak lima kali sebagai tanda bahwa jejer atau adegan dimulai (Sri Mulyono, 1989: 107). Permainan gendhing patalon bertujuan untuk membuat suasana menjadi khas, spiritual dan magis (Palgunadi, 2002: 139).
Gendhing-gendhing tujuh macam itu tampaknya disesuaikan dengan keberadaan manusia sebelum lahir. Keterangannya demikian :
1.      Cucur bawuk
Nama cucur bawuk bisa diartikan kemaluan anak kecil yang masih polos, bentuknya seperti “kue cucur”, sehingga dapat diartikan sebagai kehidupan anak-anak yang masih polos, dan orisinil. Kata cucur bawuk sebagai sebutan nama gendhing mempunyai makna tersirat lahirnya seorang bayi dari seorang ibu akibat buah cinta orang tua. Mengucur melambangkan perjuangan berat dengan taruhan nyawa. Makna tersebut dapat diinterpretasikan sebagai perjuangan yang harus dilakukan untuk mendapatkan kebahagiaan ataupun kesuksesan.
Maksud Cucur adalah makanan yang terbuat dari tepung beras berbentuk bulat seperti serabi digoreng. Sedangkan bawuk adalah warna coklat keabuabuan, atau panggilan buat anak perempuan kecil.
2.       Pare anom
Dapat diartikan buah pare yang masih muda dan segar. Ini menggambarkan masa remaja yang penuh suka ria
Dan dapat diartikan sebagai  buah pare anom yaitu buah yang masih muda warnanya hijau kekuning-kuningan atau maya-maya, warna yang sangat menarik. OrangJawa menyebut dengan istilah edi peni atau puncak keindahan.
3.      Ladrang Srikaton
Yang berirama lincah, dinamis dan agung. Menggambarkan sebagai puncak kehidupan manusia di dunia. Maksud Ladrang Srikaton gendhing yang berisi dua cengkok, disesuaikan dengan proses kelahiran manusia terjadi dari dua jenis yang sifatnya berbeda. Manusia memang harus mencapai cita-cita dengan proses ilmu laku, usaha tekun dan kerja keras.
4.      Suksma ilang
Memasuki masa paro ketiga atau yang terakhir adalah masa-masa seorang harus sudah mendekatkan diri pada Sang Khalik, sebagaimana diisyaratkan dalam gendhing ketawang Sukma Ilang (sukma melayang) yang bernuansa penuh kesedihan.
Dan juga bisa diartikan sebagai Suksma ilang yaitu berkaitan dengan proses kematian, tetapi tidak diartikan mati. Suksma atau roh yang dikehendaki oleh Tuhan hilang dari pria bersama air mani yang lepas menuju rahim wanita. Dalam arti yang lebih luas orang mesti ingat asal usulnya.
5.      Ayak-ayakan
Maksud ayak-ayakan bisa diartikan alat untuk menyaring tepung yang cara mengerjakan harus dengan digerak-gerakkan. Ayak-ayakan suatu gendhing yang iramanya pelan, tiap gatra diakhiri dengan gong suwukan suatu irama yang nikmat sekali didengar. Kadang-kadang juga menimbulkan suasana yang halus dan nikmat.
6. Srempegan
Maksud srempegan berarti irama ditingkatkan makin kencang. Srempeg berarti suatu pekerjaan yang dituntut supaya cepat selesai lagunya sebenarnya sama dengan ayak-ayakan, hanya kencang dan tiap gatra diakhiri kempul pada tempat tertentu dengan gong suwukan, sebagai tanda henti. Disaat detik-detik nyawa seseorang meninggalkan tubuhnya, digambarkan dengan gendhing yang berirama cepat dan menghentak
7.      Sampak
Maksud sampak adalah sangat cepat dan padat. Sebenarnya lagunya sama dengan srempegan, tetapi iramanya ditingkatkan menjadi lebih kencang, kempul mengisi tiap ricikan lainnya sehingga berkesan irama panas. Ini berarti klimaks dari enam gendhing yang telah dimainkan tadi. Setelah irama puncak secara pelan-pelan sratana menjadi jinem, tenang, tenteram dan hening. Itulah suasana yang suwung, sunyaruri, hening dan kontemplatif. Sebagai gambaran sakaratul maut yang dikomposisikan dengan irama yang begitu cepat dan kendang yang menghentak=hentak, laksana hentakan sang pencabut nyawa dalam mencabut  nyawa.



B.     Kesimpulan
Dari andaran diatas dapat disimpulkan bahwa gunungan dibagi menjadi dua, yaitu kayon Gapuran dan kayon Blumbangan. Gunungan dalam legendanya berisi mitos sangkan paraning dumadi, yaitu asal mulanya kehidupan ini dan disebut juga kayon. Dinamakan Gunungan karena bentuknya mirip sepucuk gunung yang mencuat tinggi keatas.
Sedangkan, Gending Jawa adalah alunan musik atau irama yang disajikan dalam bahasa Jawa. Gending Jawa bisa berupa gendinggiro, macapat, karawitan, campusari, maupun uyon-uyon. Ketujuh gendhing Patalon tersebut tak lain dimaksud simbol dari ketujuh pangkat “Penjelmaan Dzat” atau ketujuh martabat, yaitu : Pohon dunia, Cahaya (Nur), Cermin, Wajawa (roh idhafi), Dian (kandil), Permata (dharrah) dan dinding jalal (penjelmaan alam insan kamil). Di samping itu Patalon juga merupakan pernyataan karya dari yang menanggap wayang, bahwa pertunjukan wayang akan segera dimulai

  







DAFTAR PUSTAKA
Carita, Dwija. 2001. Ringkasan Pengetahuan Wayang. Sukoharjo Solo : Cendrawasih.
Endraswara, Suwardi. 2006. Mistik Kejawen: Sinkritisme, Simbolisme dan Sufisme dalam Budaya Spiritual Jawa. Yogyakarta: Narasi
Pandji, Sudiyanto. 2011. MENGENAL GENDING JAWA (Bagian – I)
http://460033.blogspot.com/2011/01/makna-filosofis-gendhing-cucur-bawuk.html

Pengertian Wayang

Posted by ilmu dasar kehidupan On 00:45 | No comments
Wayang dan Perangkatnya



1.        Pengertian Wayang
Wayang berasal dari kata 'Ma Hyang' yang artinya menuju kepada roh spiritual, dewa, atau Tuhan Yang Maha Esa (Wawan:2007:3). Kata `wayang’ diduga berasal dari kata `wewa­yangan’, yang artinya bayangan (Rif’an:2010:7). Dugaan ini sesuai dengan kenyataan pada pergelaran Wayang Kulit yang menggunakan kelir, secarik kain, sebagai pembatas antara dalang yang memainkan wayang, dan penonton di balik kelir itu. Penonton hanya menyaksikan gerakan-gerakan wayang melalui bayangan yang jatuh pada kelir. Pada masa itu pergelaran wayang diiringi seperangkat gamelan sederhana dan penyimping juga pesinden.
Pak Edi kang minangkani dhalang, ngandharake wayang yaitu wayah untuk Yang. Wayah yang dimaksud adalah cucu atau penerus untuk Yang yaitu Allah SWT. Fungsinya wayang di masyarakat sebagai conto kehidupan masyarakat. Biayasanya wayang digunakan dalam acara ruwatan, bersih desa dan lainya yang ditujukan dengan maksud merawat dan mnjalankan perilaku yang baik. Perlengkapan wayang dinataranya karawitan, gedebog, sinden, dhalang.
Wayang adalah salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di antara banyak karya budaya lainnya (Sudjarwo: 2010: 5). Budaya wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Budaya wayang, yang terus berkembang dari zaman ke zaman, juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan.
Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Keberadaan wayang sudah berabad-abad sebelum agama Hindu masuk ke Pulau Jawa. Walaupun cerita wayang yang populer di masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dan Mahabarata. Kedua induk cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami pengubahan dan penambahan untuk menyesuaikannya dengan falsafah asli Indonesia.
Penyesuaian konsep filsafat ini juga menyangkut pada pandangan filosofis masyarakat Jawa terhadap kedudukan para dewa dalam pewayangan. Para dewa dalam pewayangan bukan lagi merupakan sesuatu yang bebas dari salah, melainkan seperti juga makhluk Tuhan lainnya, kadang-kadang bertindak keliru, dan bisa jadi khilaf. Hadirnya tokoh panakawan dalam_ pewayangan sengaja diciptakan para budayawan In­donesia (tepatnya budayawan Jawa) untuk mem­perkuat konsep filsafat bahwa di dunia ini tidak ada makhluk yang benar-benar baik, dan yang benar-benar jahat (Sudjarwo:2010:7). Setiap makhluk selalu menyandang unsur kebaikan dan kejahatan.
2.        Perangkat Pendukung
Seni memainkan wayang yang biasa disebut pagelaran, merupakan kombinasi harmonis dari berbagai unsur kesenian. Pada pagelaran wayang kulit dituntut adanya kerjasama yang harmonis baik unsur benda mati maupun benda hidup (Wawan:2007:29). Unsur benda mati yang dimaksud adalah sarana dan alat yang digunakan dalam pagelaran wayang kulit. Sementara unsur benda hidup (manusia)  adalah orang-orang yang berperan penuh dalam seni pagelaran wayang kulit.
a.        Unsur Benda
Unsur benda yang ada dalam pagelaran wayang kulit adalah alat-alat yang berupa benda tertentu yang digunakan dalam pagelaran wayang tersebut. Bahkan terdapat unsur materi yang harus ada (karena tidak bisa digantikan). Unsur materi yang dimaksud antara lain: wayang yang terbuat dari kulit lembu, kelir, debog (batang pohon pisang), seperangkat gamelan, cempala/keprak/ kepyak, kotak wayang, cempala, dan blencong (Wawan:2007:27). Seperangkat alat tersebut harus ada, karena alat-alat tersebut tidak bisa digantikan. Akan tetapi pada perkembangan zaman ada modifikasi atau pengubahan yang bibuat berdasar kebutuhan atau kreatifitas seniman, namun keberadaan wayang dankelir tidak bisa ditinggalkan.
1)        Wayang kulit
Jawa tentunya terbuat dari kulit. Pada umumnya terbuat dari kulit sapi namun ada juga yang dibuat dari kulit kambing. Proses pembuatannya pun cukup lama, mulai dari direndam lalu di gosok terus dipentang supaya tidak kusut kemudian dibersihkan bulu-bulunya. Baru setelah itu diberi pula untuk kemudian ditatah sesuai dengan gambar pola, dan terakhrir diwarnai. Jadilah wayang hasil kreasi seni pahat dan seni lukis. Fungsinya wayang kulit adalah sebagai gambaran wujud manusia yang hidup di dunia juga diakhirat. Hal ini disesuaikan dengan lakon cerita tersebut.
2)        Simpingan
Sebuah hiasan dalam pagelaran wayang yang berada di kanan kiri kelir disebut simpingan. Wayang yang berada di simping kanan wayang yang memiliki sipat baik namun juga ada beberapa yang memiliki sipat buruk dan simping kiri atas ada Betari Uma fungsinya sebagai punjernya wayang atau panutan wayang.
3)        Gamelan
Merupakan seperangkat alat musik perkusi dan petik serta gesek yang mengiringi pagelaran wayang. Jumlahnya sangat banyak. Macam gamelan antara lain bonang, gambang, gendang, gong, siter, kempul, dll. Gamelan dimainkan secara bersama-sama membentuk alunan musik yang biasa disebut gending. Inilah seni kreasi musik dalam pagelaran wayang. Fungsi gamelan yaitu untuk mengiringi sukaparisuka melaksanakan pekerjaan. Seperti mengiringi jalanya cerita dan tabuh gamelan juga sindhen.
4)        Kelir
Merupakan layar lebar yang digunakan pada pertunjukan wayang kulit. Fungsinya adalah sebagai jagad wayang dalam pertunjukan. Pada rumah Joglo, kelir di pasang pada bagian ‘pringgitan’. Bagian ini merupakan bagian peralihan dari pada ranah publik, pendopo dengan ranah privat, ndalem atau nggandok. Oleh karena itu penonton wayang kulit yang tergolong keluarga, pada umumnya nonton di bagian dalam ndalem, yang sering dianggep nonton mburi kelir. Nonton di belakang kelir ini memang benar-benar  wewayangan’, atau bayang-bayang.
5)        Debog
Suatu batang pisang yang digunakan untuk menancapkan wayang (simpingan). Di simping artinmya dijajar. Baik yang dimainkan maupun yang dipamerkan (display), digunakan ‘debog’. Fungsinya untuk menancapkan wayang yang di-display juga ada aturan-aturan tertentu. Mana wayang yang harus ada disebelah kanan ki dalang, mana pula yang harus berada disebelah kirinya.
6)        Blencong
adalah lampu minyak (minyak kelapa – lenga klentik) yang khusus digunakan dalam pertunjukan wayang kulit. Fungsinya untuk menjadi penerang atau srengenge pada pertunjukan. Design-nya juga khusus, dengan cucuk (paruh) dimana diujungnya akan menyala api sepanjang malam. Oleh karenanya seorang penyimping harus mewaspadai pula keadaan sumbu blencong tersebut manakala meredup, atau bahkan mati sama sekali. Tak boleh pula api itu berkobar terlampau besar. Karena akan mobat-mabit. Kalaupun lampu penerangan untuk dalang pada masa sekarang sudah menggunakan listrik, sesungguhnya ada fungsi dasar yang hilang atau dihilangkan dari penggunaan blencong tersebut. Oleh karena blencong adalah lampu minyak, maka apinya akan bergoyang manakala ada gerakan-gerakan wayang, lebih-lebih waktu perang, yang digerakkan oleh ki dalang. Ada kesan bahwa ayunan api (kumlebeting agni) dari blencong itu seolah-olah memberikan nafas dan atau menghidupkan wayang itu sendiri. Hal yang tak terjadi manakala penerangan menggunakan listrik atau tromak (petromax). Saat ini blencong sudah jarang digunakan. Dianggap kurang praktis dan merepotkan. 
7)        Kotak
Dari kotak tempat menyimpan wayang ini juga akan dikeluarkan wayang, baik yang akan ditampilkan maupun yang akan di-simping. Di-simping artinya dijajar, di-display di kanan dan kiri layar (kelir) yang ditancapkan di debog (batang pisang). Kotak akan ditaruh dekat dalang, di sebelah kiri, dan ditenang yang dekat dalang ditempatkan kepyak. Sedang kepraknya justru bagian dari kotak yang dipukul dengan cempala.
8)        Cempala
merupakan piranti sekaligus ‘senjata’ bagi dalang untuk memberikan segala perintah, baik kepada wiraniyaga, wiraswara maupun waranggana.fungsinya sama seperti dhodhog selehe gamelan. Bentuknya sangat artistik, bagaikan meru. Ia bisa dipukulkan pada kotak, sebagai keprak, bisa pula ke kepyak, tiga/empat lempengan logam yang digantungkan pada kotak wayang. Pada saat ke dua tangan dalang sedang memegang wayang – dan ini yang unik – maka tugas untuk membunyikan keprak maupun kepyak, dengan tetap menggunakan cempala, dilakukan oleh kaki kanan ki dalang. Cempala – dengan desain sedemikian rupa itu – akan dijepit di antara ibu jari dan jari telunjuk berikutnya. Menggunakan cempala memerlukan latihan untuk memperoleh tingkatan ketrampilan tertentu. Memukul kotak dengan cempala, Ki Dalang dapat memilih berbagai kemungkinan pembangun suasana dengan dhodhogan, seperti ada-ada, pathetan, kombangan. Dapat pula sebagai perintah kepada karawitan untuk mengawali, merubah, sirep, gesang atau menghentikan gamelan. Juga dapat digunakan untuk memberikan ilustrasi adegan, seperti suara kaki kuda, suara peperangan dan lain-lain. Artinya, ketika ke dua belah tangan ki dalang sedang memainkan wayang, maka keprak atau kepyak dapat juga berbunyi. Keprak adalah suara dhodhogan sebagai tanda, disebut sasmita, dengan jenis tertentu diwujudkan pemukulan pada kotak dengan menggunakan cempala. Sementara pada kepyak, berupa tiga atau empat lempengan logam (kuningan/gangsa atau besi) yang digantungkan pada kotak, juga dipukul dengan cempala, dalam bentuk tanda tertentu, juga sebagai sasmita atau tanda-tanda untuk – selain mengatur perubahan adegan – merubah, mempercepat, memperlambat, sirep, menghentikan atau mengganti lagu (gendhing). Terdengar nada yang berbeda antara kepyak wayang kulit Jogya dan gaya Surakarta.
b.        Unsur Manusia
Dalang, penyimping, penabuh, dan sinden adalah orang-orang yang berperan penting dalam kelancaran dan keberhasilan sebuah pagelaran wayang (Rif’an:2010:40). Mereka adalah orang-orang yang memiliki kemahiran khusus dalam bidangnya masing-masing. Berkat kemahiran khusus tersebut, terkadang mereka tidak bisa digantikan oleh sembarang orang.
1)        Dalang
adalah sutradara, pemain, artis, serta tokoh sentral dari pada suatu pertunjukan wayang. Tanpa dalang, maka pertunjukan wayang itu tidak ada. Maka dhalang berfungsi sebagai pencerita lakon wayang yang akan dipertunjukan. Untuk pertunjukan wayang kulit, komunikasi antara dalang dengan unit pendukung, perlengkapan dan peralatan pertunjukan wayang merupakan komunikasi yang unik. Melalui segenap indera yang dimilikinya, ia berkomunikasi dengan kompleksitas orang dan peralatan yang lazim digunakan dalam suatu pertunjukan wayang. 
2)        Pembantu
adalah orang yang membantu dalang dalam menyiapkan wayang yang di jajar (disimping) pada debog (simpingan). Tugas pembantu ini sesungguhnya tidak terbatas hanya memasang wayang yang harus di-display, akan tetapi juga mempersiapkan segala sesuatu keperluan dalang. Misalnya menyediakan wayang-wayang yang akan digunakan (play) sesuai urutan adegannya, menempatkan kotak wayang berikut keprak dan kepyaknya, menyediakan cempala, memasang dan menyalakan maupun mengatur sumbu blencong, lampu minyak yang khas digunakan dalam pertunjukan wayang kulit, dan lain-lain. Sekali-sekali juga membantu pelayanan konsumsi (makan minum, rokok) untuk dalang. Untuk penyiapan ini terkadang dibantu oleh anak-anak muda sebagai salah satu media pendidikan untuk mengenali dan akhirnya mencintai wayang.
3)        Panjak
adalah orang yang bertugas memainkan gamelan. Orang-orang yang bertugas sebagai penabuh gamelan harus mempunyai kemahiran khusus dalam memainkan lagu (gendhing) sesuai dengan permintaan si dalang. Permintaan si dalang tentunya tidak verbalistik, namun penabuh gamelan diharuskan memahami isi cerita/lakon wayang dan gendhing yang dimainkan hendaknya diselaraskan dengan lakon cerita wayang. Hal inilah menuntut ketajaman intuisi bagi penabuh gamelan dalam pagelaran wayang, karena dalam pagelaran wayang tidak disediakan notasi musik dalam memainkan gamelan. Semuanya menggunakan intuisi seniman.
4)        Waranggana
Adalah beberapa penyanyi atau pesinden yang mengiringi jalanya seni wayang. Warangga atau pesindenterdiri dari:
a.        Swarawati
Pesinden atau penyanyi wanita sudah lama dikenal dikalangan seni di pulau Jawa. Namun sebagai seniwati yang mengiringi pagelaran wayang purwa, mereka baru dikenal sekitar dasawarsa tiga puluhan abad ini, sehingga mulai masa itu setiap pagelaran wayang purwa ada pesindennya. Dan dianggap tidak wajar apabila pesindennya tidak ada. Jika para nayaga dinamakan pradangga, maka para pesinden pun mendapat nama-nama baru yaitu waranggana, widuwati atau swarawati.
b.         Wiraswara

Wiraswara ialah seorang atau beberapa orang laki-laki yang mempunyai peran melantunkan syair tertentu untuk mengisi jalannya alunan gending. Pengertian wiraswar yaitu, wira = perwira (berani/sakti/ampuh), swara = suara, jadi yang dimaksudkan wairaswara ialah orang atau beberapa orang yang mempunyai "kesaktian" dalam hal tarik suara. Dalam pertunjukan wayang posisi wiaraswara biasanya dibelakang atau sejajar dengan swarawati.

DAFTAR PUSTAKA

Rif’an, Ali. 2010. Buku Pintar Wayang. Jogjakarta: Grahailmu

S. Edi, 2013. Wawanrembug ngengingi Wayang. Blitar: 16 Nopember 2013

Sari. 2013. Wawanrembug ngenani Wayang. Blitar: 30 Nopember 2013

Sudjarwo, Heru S.. Sumari dan Wiyono, Untung. 2010. Rupa dan Karakter Wayang Purwa. Jakarta: Kakilangit Kenari


Wawan, Susetya. 2007. Dhalang, Wayang dan Gamelan. Jakarta: Kvarasi

Friday, 4 August 2017

Ludruk

Posted by ilmu dasar kehidupan On 05:03 | No comments
Kesenian drama tradisional Jawa Timur kususnya, siapa lagi yang tak mengenal ludruk. Ludruk sebagian mengartikanya lugu tur gedhruk yang memiliki arti cerita yang polos dengan tingkah laku serta pembawaan suara yang keras. Ludruk berkembang didaerah Jawa Timur bagian tengah seperti Surabaya, Mojokerto, Jombang, Malang, Pasuruan, dan lain sekitarnya, makanya bahasa yang dipakai kusus dialeg Surabaya sekitar yang termasuk kasar. Salah satu yang berperan aktif dalam dunia seni ludruk seperti Cak Kartolo, beliau mampu menciptakan berbagai cerita ludru carangan yang kemudian dikasetkan. banyak judul yang beliau ciptakan, seperti Basman Poseng yang isinya tentang kepiluan Basman ketika dibohongi temannya. Kuro Kandas, Kartolo menggoda Tini dipinggir jalan berakhir dengan happy ending. Dalang Gersang, Katolo menjadi dalang, tetapi wayangnya ketinggalan alhassil teman menjadi wayang. cerita-cerita yang disuguhkan oelh Cak Kartolo sungguh menarik serta dibumbuhi isi yang komedi. selain itu kidungan-kidungan ludruk dapat dijadikan panutan dan nasehat untuk pendengar.

Total Pageviews

anti block

G.ads